Ini Penyebab Tingginya Harga Sembako Di Oksibil Pegunungan Bintang

Salah satu, Pedagang Sembako di Pasar Induk Oksibil

KALOMDOL,SiwarNews—Tingginya Harga sembilan bahan pokok (SEMBAKO) di wilayah Pegunungan Bintang, khususnya Oksibil, Ibu kota Kabupaten, disebabkan mahalnya harga timbangan perkilogram Pesawat dari Jayapura dan Boven Digul, serta tingginya harga transportasi darat dalam ibukota.

Hal ini dikatakan Yuliadi,salah satu pedangan sembako saat di temui di pasar induk Mimalkatop, Kampung Arinkop Distrik Kalomdol,Senin (09/5/2022).

Menurutnya, sejak dirinya menempati salah satu Los sejak Januari 2021 hingga saat ini, harga Sembilan bahan pokok (Sembako) di wilayah ibu kota khusunya Oksibil dan Kalomdol masih tergolong mahal akibat tingginya harga perkilogram timbangan Pesawat dan mahalnya ongkos transportasi darat dalam ibukota.

“Sampai saat ini harga sembako di oksibil masih tetap tinggi dan tidak berubah”

Mama Ali,Salah satu Pedagang Sembako

Dikatakan,tingginya harga Sembilan bahan pokok (sembako), diakibatkan mahalnya harga timbangan transportasi udara dan tarif transportasi angkutan darat.

“Mahalnya harga barang di wilayah Pegunungan Bintang berpengaruh akibat tingginya harga timbangan perkilogram barang impor dan tarif transportasi lokal dari dan ke ibu kota, dua hal inilah yang membuat harga sembako melonjak tinggi”ujar Yuliadi.

Lanjudnya, akibat tingginya harga timbangan perkilogram bahan impor dan mahalnya tarif transportasi dari rumah ke ibu kota (Oksibil), membuat banyak konsumen mengeluh terkait harga barang, akhirnya mereka ( konsumen) menyalahkan pedangan, seolah –olah pedagang bermain harga padahal tidak. Ujarnya kembali.

“Sebagai pedagang banyak tantangan yang kami alami dari konsumen terkait mahalnya harga barang, namun apa boleh buat kami tetap mengikuti tarif harga perkilo yang di tetapkan pihak penerbangan, juga tarif harga transportasi darat yang berlaku hingga saat ini”

Ujarnya pula, hingga saat ini harga perkilogram bahan impor dari Jayapura, bovendigul ke oksibil maupun sebaliknya sebesar Dua Puluh Dua Ribu Rupiah, sedangkan tarif angkutan hasil bumi dari dari Distrik dan kampung ke oksibil, bila menggunakan kendaraan roda dua berkisar antara Empat Puluh Ribu rupiah hingga lima ratus ribu rupiah sedangkan kendaraan roda empat berkisar antara lima puluh ribu hingga lima juta Rupiah tergantung muatan” Terangnya lagi.

Dua hal ini pula yang selama ini membuat harga barang impor maupun bahan lokal mahal harganya.

Terkait hal ini,Yulia,berharap Pemerintah Daerah terutama Bupati dan Dinas terkait jeli melihat kebutuhan dasar seperti ini sebab ujar Yuliadi, tingginya harga perkilogram dan mahalnya tarif angkutan Udara maupun Darat sangat berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok di wilayah Pegunungan Bintang.

Ketika ditanya terkait perubahan harga Sembako jelang lebaran,ibu satu anak itu berujar, sampai saat ini belum ada kenaikan harga.

“Puji Tuhan sampai saat ini harga sembako masih normal seperti hari- hari biasanya”

Sebelumnya Pemerintah Pegubin sempat melakukan kerja sama dengan kementerian perhubungan melalui dirjen perhubungan terkait pelayanan barang subsidi dengan tarif 0% pada april 2021 lalu namun hingga saat ini manfaat hasil kerja sama tersebut belum di rasakan masyarakat. ***

Tim Redaksi 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *